publiknasional.com

Berita Populer

powered by camp26

Video

.

RS Bhakti Dharma Husada Tak Diminati

Penilaian User: / 4
TerburukTerbaik 

SURABAYA, publiknasional.com

Keberadaan Rumah Sakit Bhakti Dharma Husada (RS BDH) di Dusun Kendung, Kelurahan Sememi, Kecamaran Benowo, Kota Surabaya, masih sepi peminat. Meski RS itu

sudah dioperasikan sejak tiga tahun silam, namun keberadaannya belum diminati warga kota, khususnya warga Surabaya bagian barat.

Warga Surabaya sebagian besar masih memilih berobat ke RS Soewandhie daripada ke RS BDH. Sebab, dari tingkat layanan dan kondisi bangunan masih lebih baik dari RS Soewandhie. Kondisi ini tentu menjadi ironis. Pasalnya, dana besar sudah dikucurkan untuk pengoperasionalan RS BDH tidak sebanding dengan pelayanannya.

Data yang diungkapkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) itu, pada 2010-2011 lalu, RS BDH itu sudah mendapatkan dana Rp 65 miliar. Dana sebesar itu dialokasikan untuk membeli alat-alat kesehatan dan obat dan operasional sehari-hari. Namun, layanan di sana masih tidak maksimal.

“Kami melihat ternyata uang sebanyak itu tidak digunakan sesuai dengan semestinya. Hal itu bisa dilihat dari serapan anggaran untuk RS BDH sangat minim, bahkan hanya di bawah 50 persen saja. Saya tidak mengerti mengapa dana tersebut tidak segera dibelanjakan untuk melengkapi peralatan dan obat di sana, demi untuk melayani warga Surabaya bagian barat,” kritik Baktiono, Ketua Komisi C DPRD Surabaya, Senin (7/5/2012).

Bila demikian faktanya, lanjut dia, hal itu bisa dijadikan bukti kegagalan Walikota Surabaya Tri Rismaharini dalam mengurus rumah sakit itu.  Serapan anggaran yang rendah ini, lanjut Baktiono, mengakibatkan RS BDH tidak memiliki alat kesehatan yang mumpuni. Begitu juga dengan obat-obatnnya yang tidak lengkap. Ketidaklengkapan ini membuat masyarakat enggan berobat ke RS BDH. Pasien yang kondisinya agak berat, terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit lain.

“Wajar saja masyarakat tidak datang ke sana. Sakit sedikit parah saja sudah dirujuk ke rumah sakit lain seperti RS Soewandie dan RSU dr Soetomo. Mengapa RS BDH tidak memiliki kemampuan sendiri untuk menangani pasiennya? Walikota Tri Rismaharini harus bertanggungjawab karena dialah komandannya,” tegas Baktiono.

Karena itu, lanjut dia, Pemkot Surabaya harus lebih keras dalam meningkatkan pelayanan kesehatannya pada masyarakat. Memiliki dua rumah sakit, yakni RS Soewandhie dan RS Bhakti Dharma Husada (BDH), namun ada gap yang njomplang. RS Soewandhie bisa dikatakan menjadi favorit, sedangkan RS BDH tak diminati.

Kondisi itu juga dikatakan Edi Budi Prabowo, anggota Komisi D yang lain. Menurutnya, belum maksimalnya layanan di RS BDH juga terungkap dari data Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Walikota tahun 2011. Dari tiga indikator yang digunakan untuk mengukur kinerja dua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) ini, semuanya ‘dimenangi’ RS Soewandhie. Tiga indikator ini adalah Bed Occupation Ratio (BOR), Bed Turn Over Rate (BTO) dan Turn Over Interval (TOI).

BOR adalah indikator kinerja RS yang digunakan untuk melihat berapa tempat tidur di rumah sakti yang digunakan pasien dalam waktu tertentu. Sedangkan tahun 2011, BOR di RS Soewandhie adalah 77,52 persen dari tempat tidur sejumlah 189 unit. Sementara itu di RS BDH BOR-nya jeblok di angka 29,24 persen. “Nilai parameter BOR sesuai aturan Kementerian Kesehatan (kemenkes) adalah 60-85 persen,” katanya.

Demikian juga untuk BTO yang merupakan nilai frekuensi pemakaian berapa kali tempat tidur dipakai dalam satu satuan waktu tertentu. Pada tahun 2011, RS Soewandhie tercatat 89,42 kali. Artinya terjadi overload pelayanan, sedangkan di RS BDH hanya tercatat 19,69 kali. Artinya pelayanan di RS BDH masih rendah.

Hal yang sama terjadi untuk TOI yang merupakan indikator waktu rata-rata tempat tidur kosong atau waktu antara satu tempat tidur yang ditinggalkan pasien sampai ditempati pasien lain. Di RS BDH, TOI adalah 0,92 hari, atau kurang dari satu hari, tempat tidur kosong sudah terisi kembali. Sedangkan di RS BDH sebesar 13,12 hari.

Dikonfirmasi soal ini, Walikota Surabaya Tri Rismaharini mengakui hal ini. Ia menyatakan sepakat ada situasi yang njomplang. “Saya sepakat itu,” kata Risma.

Menurut Risma, salah satu alasannya adalah karena RS BDH tidak percaya diri. Dalam penanganan pasien, RS BDH tahun 2011 belum berani melakukan kegiatan medis karena terbatas peralatan. Imbasnya pasien yang tergolong sakir berat akhirnya dilimpahkan ke RS lain yang mumpuni. “Saat itu akhirnya banyak pasien yang dirujuk ke RS Soewandhie,” jelas Walikota Surabaya.

Selain itu, RS BDH saat itu belum menerima pasien Askes atau Jampersal. “Tapi, sekarang ini sudah mulai berani. Alhamdulillah manajemen yang baru sudah mulai bagus. Ini bisa dibuktikan dengan pendapatan RS BDH yang sekarang ini sudah mencapai 50 persen lebih dari target PAD (Pendapatan Asli Daerah),” jelasnya.

Dicontohkannya adalah operasi. Tahun 2011 tak ada sama sekali. Sedangkan tahun ini sudah ada 12 pelaksanaan operasi. “Dulu BDH juga tidak melayani Askes, sekarang sudah, termasuk Jampersal,” terangnya. [surabayapost.co.id]

 

Ucapan

Lihat
17 Oktober 2001 - 2014 Dirgahayu Kota Wisata Batu Ke-13 Ayo!!! Kembangkan Keatifitas & Inovasimu Demi Kejayaan Kota Batu Bagian Humas

Dirgahayu HUT Kemerdekaan RI ke-69

PT. JAWA METALINDO PRIMA INDUSTRI

Lentera Hati

INILAH KIAT SUKSES MENJADI ISTRI SHOLEHAH
Istri cerdik yang sholehah, 
penawar hati penyejuk pikiran. 
Di rumah dia sebagai istri, di jalanan dia sebagai kawan, 
dikala suami ...
Baca Selengkapnya...
IBU, PAHLAWAN SEPANJANG MASA
Oleh: Sri Kusnaeni, S. TP. ME.I *)


Bismillahirrahmaaniraahim…
Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia akan memperingati hari tersebut ...
Baca Selengkapnya...
MARHABAN YA RAMADHAN
Mengucapkan:

SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA
RAMADHAN 1433 HIJRIYAH

SD AL-ISHLAH
Jalan  Raya Rejeni No. 1 Desa Rejeni, ...
Baca Selengkapnya...

Mahfud Suroso Siapkan Rp 50 Miliar pada Anas

JAKARTA, publiknasional.com

 

Mantan Bendahara Umum Partai Demokrat (PD) M Nazaruddin membuka lagi satu kasus kunci kemenangan Anas Urbaningrum menjadi ketua umum PD adalah fee sejumlah proyek dari PT Adhi Karya melalui  Mahfud Suroso.

Baca selengkapnya...Link